Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
AdvertorialBerita UtamaEkonomiLampung Selatan

Pandemi Covid-19 Beri Berkah Tersendiri Pengusaha Ikan Cupang Hias

57
×

Pandemi Covid-19 Beri Berkah Tersendiri Pengusaha Ikan Cupang Hias

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG, RELASIPUBLIK – Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hingga lebih enam bulan dan entah kapan akan berakhir, ternyata memberi berkah kepada usaha ikan hias, khususnya jenis ikan cupang (Betta sp). Diduga kuat penyebabnya, banyak korban PHK yang membuka usaha guna menghidupi keluarga dan bagi karyawan yang bekerja di rumah memiliki waktu lebih banyak untuk menyalurkan hobi.

Robby Mesa, pengusaha besar ikan cupang di Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung mengatakan, omzet penjualan ikan cupang yang dilakoninya naik hingga 70-80 persen setelah pandemi Covid-19. Bahkan pangsa pasar ikan cupang miliknya yang sebelum pandemi berimbang antara ekspor dan lokal, kini malah didominasi oleh penjualan lokal hingga 90 persen.

Example 300x600

“Terjadi lonjakan yang luar biasa permintaan pasar lokal. Bahkan konsumen sampai inden menunggu panen dengan terlebih dahulu mentransfer dana pembayaran,” ujar Robby di galery ikan cupang miliknya, akhir pekan lalu.

Bahkan dari hasil penjualan ikan cupang yang terus melonjak, sejak bulan Juli lalu, Robby membuka galery baru berkapasitas 400 kolam plastik dan memiliki fasilitas etalase untuk peragaan ikan cupang yang bangun pada lahan seluas 900 meter persegi.

Galery baru yang sekaligus menjadi lokasi pemijahan dan pembesaran ini bisa menampung ikan cupang. Dibangun menggunakan konstruksi baja ringan dan atap jaring yang digunakan agar ikan tidak terlalu terpapar sinar matahari dan hujan.

Sebelumnya Robby memiliki gallery di dekat rumahnya, berupa tiang bambu yang kondisinya sudah tidak layak. “Bahkan kondisinya sudah parah dan hampir roboh sehingga saya bangun yang baru dari dana hasil jual ikan cupang,” lanjut Robby.

Menurut Robby, sebagian dari pembeli ikan cupang tersebut merupakan korban PHK yang mau membuka usaha breeding ikan cupang dan sebagian memang penghobi ikan cupang.

“Dengan adanya pandemi Covis-19 kan banyak karyawan yang bekerja dari rumah sehingga memiliki waktu lebih banyak untuk menyalurkan hobinya. Bahkan tidak sedikit pula yang memelihara ikan cupang sebagai upaya mengatasi kejenuhan berbulan-bulan tinggal di rumah,” lanjut Rabby yang saat ini mampu menjual 700 hingga 1000-an ikan per bulan dari sekitar 100 pasang indukan yang dikembangbiakannya.

Termasuk di desanya, menurut Robby, banyak anak muda yang tidak memiliki pekerjaan yang terjun menjadi breeder ikan cupang. Banyak di antara mereka yang belajar cara membiakan ikan cupang kepada Robby. Bahkan Robby juga bersedia untuk menampung ikan cupang hasil breeding mereka jika mengalami kesulitan dalam pemasaran.

“Namun karena pemasaran melalui online begitu mudah, penjualan ikan mereka berjalan lancar dan tidak ada yang mengirim ikan ke saya. Lagi pula peminat ikan cupang naik terus sehingga permintaan terus naik,” ungkap Robby.

Meski sudah bisa berjalan sendiri-sendiri, Robby berharap para pelaku usaha breeding ikan cupang tetap menjalin komunikasi dan berbagi informasi, terutama soal pencegahan penyakit. Sebab berdasarkan pengalaman Robby, ia pernah jatuh saat hampir semua ikan yang dibesarkannya terserang jamur saat musim pancaroba tahun 2018.

Saat itu, hujan yang turun di awal musim hujan yang umumnya bersifat asam sehingga memicu berkembangnya jamur yang menyerang ikan di dalam kolam pembesaran.

Tidak saja di Natar, di daerah-daerah lainnya, termasuk di Jabodetabek banyak breeder cupang yang berguru kepada Robby. Terutama mereka yang membeli indukan dari Robby. Bahkan Robby memberikan tutorial beternak ikan cupang melalui kanal Youtube.

Pada awalnya niatnya supaya bisa membantu para pemula breeder cupang. Tapi setelah materi yang diunggahnya banyak, dan subscribernya terus mencapai ribuan maka tayangan Youtube Robby mulai diisi iklan dan ia menerima pendapatan tambahan dari Youtube.

Membludaknya pelaku usaha ikan cupang ternyata memberi peluang usaha bagi peternak cacing sutra yang sebelumnya hanya memasok produknya kepada hatchery lele dan patin, kini mereka juga memasok ke usaha breeding ikan cupang. “Kini usaha peternakan cacing juga berkembang pesat di Kota Metro dan daerah sekitarnya,” aku Robby.

Dominasi Lokal
Jika sebelum pandemi Covid-19, pangsa pasar ikan Robby fifty-fifty antara ekspor ke AS, Thailand dan negara ASEAN lainnya, kini justru 90 persen didominasi pasar lokal.

Tingginya permintaan pasar membuat harga ikan cupang stabil. Meski breeder ikan cupang bermunculan di berbagai daerah, tetapi karena permintaan tinggi harga tetap stabil. Tidak seperti komoditas lainnya, yang harganya jatuh ketika produksi melimpah karena pemainnya kian banyak.

Terdapat tiga indikator yang menentukan harga jual ikan cupang, yakni kecocokan warna badan, performa kerapihan sirip-sirip dan perfect body. Ikan cupang yang terbaik dimasukan dalam grade A dengan harga jual Rp1,5 juta-Rp3 juta/ekor; grade B atau standar dengan harga jual Rp500 ribu-Rp1 juta/ekor dan grade di bawah standar dengan harga jual Rp500 ribu ke bawah/ekor.

Lalu sistem penjualan juga terbagi, yakni sistem online melalui instagram dan sistem reseller. Saat ini terdapat tiga reseller yang memasarkan ikan cupang milik Robby.

Meski sudah bisa berjalan sendiri-sendiri, Robby berharap para pelaku usaha breeding ikan cupang tetap menjalin komunikasi dan berbagi informasi, terutama soal pencegahan penyakit. Sebab berdasarkan pengalaman Robby, ia pernah jatuh saat hampir semua ikan yang dibesarkannya terserang jamur saat musim pancaroba tahun 2018.

Saat itu, hujan yang turun di awal musim hujan yang umumnya bersifat asam sehingga memicu berkembangnya jamur yang menyerang ikan di dalam kolam pembesaran.

Tidak saja di Natar, di daerah-daerah lainnya, termasuk di Jabodetabek banyak breeder cupang yang berguru kepada Robby. Terutama mereka yang membeli indukan dari Robby. Bahkan Robby memberikan tutorial beternak ikan cupang melalui kanal Youtube.

Pada awalnya niatnya supaya bisa membantu para pemula breeder cupang. Tapi setelah materi yang diunggahnya banyak, dan subscribernya terus mencapai ribuan maka tayangan Youtube Robby mulai diisi iklan dan ia menerima pendapatan tambahan dari Youtube.

Omzet Naik
Di tempat terpisah breeder ikan cupang lainnya Nurhadi (48 tahun), juga warga Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan mengaku omzetnya naik sejak pandemi Covid-19.

Saat ini terdapat 50 pasang indukan yang dimiliki Nurhadi untuk dipijahkan secara berkelompok dengan siklus pemijahan setengah bulan sekali yang terdiri dari jenis plakat, galaksi avatar, galaksi multicolour, dan galaksi nemo. Jadi dengan indukan sebanyak 50 pasang maka dalam sebulan Nurhadi menghasilkan 5 ribuan ekor anakan ikan cupang.

Nurhadi memiliki 560 kolam plastik pada lahan 900 meter persegi yang digunakan untuk membesarkan ikan cupang. Untuk mengurus ikan cupang tersebut, Nurhadi mempekerjakan 4 orang dari keluarga dan saudaranya.

Sejak pandemi Covid, banyak warga di berbagai desa di Lampung Selatan yag terjun menjadi pelaku usaha ikan cupang, mulai dari yang menjadi reseller dan breeder cupang. Di Desa Merak Batin saja, Nurhadi memperkirakan lebih dari 20-an usaha breeding ikan cupang yang baru. Akibatnya, ketersediaan pakan burayak cupang berupa kutu air menjadi sulit. Padahal pada awalnya, kutu air mudah didapat di selokan-selokan dan kolam-kolam lele.

Untuk mengatasinya, Nurhadi membudidayakan sendiri kutu air dengan cara mengambil airnya dari limbah kolam lele, lalu ditaburi kotoran kandang ayam yang sudah difermentasi dengan larutan EM4 selama dua minggu. Setelah seminggu, kutu air sudah bisa dipanen.

Dalam menentukan harga jual ikan cupang didasarkan kepada kualitas warna badannya dan bentuk badannya. Semakin penuh warnanya maka kualitasnya semakin bagus dan harga jualnya pun semakin mahal. Berdasarkan kualitas dan bentuk badan tersebut, Nurhadi membaginya ke dalam 4 grade, mulai dari top grade, grade A, B dan C.

Untuk grade A dijualnya dengan harga Rp1 hingga Rp1,5 juta/10 ekor. Sementara untuk kategori top grade dijual Rp500 ribu hingga Rp1 juta/pasang (jantan-betina). Biasanya cupang top grade digunakan pembudidaya ikan cupang untuk indukan dan selanjutnya dipijahkan. Setiap bulan, Nurhadi mampu meraih keuntungan sekitar Rp20 juta-Rp40 juta.

Lalu dalam menjual ikan cupang, terdapat dua sistem yang dijalankan Nurhadi. Pertama melalui sistem online. Nurhadi menjajakan ikan hiasnya melaui media sosial. Selanjutnya peminat menghubungi Nurhadi untuk melakukan order. Setelah pembayaran diterima, baru ia mengirim ikan ke alamat pembeli melalui jasa ekspedisi. Agar ikan sehat sampai di alamat pembeli maka ikan dikemas dalam kantong plastik yang dilapisi styrofoam agar plastiknya tidak pecah jika tergencet dan tidak kena cuaca panas selama perjalanan.

Kedua, sistem reseller, di mana mitranya datang membeli ikan cupang dalam jumlah banyak ke rumah Nurhadi. Untuk sistem reseller, Nurhadi menjual cupang kategori grade C seharga Rp400 ribu per 10 ekor; lalu grade B seharga Rp700 ribu per 10 ekor. (Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *